terima kasih,
buat menemaniku
di titian waktu-waktu
meredakan resah kesah
dan meredam amarah
dan semua
dan semua
ini saatnya, saya
berdiam di rumah sendiri
salam
terima kasih,
buat menemaniku
di titian waktu-waktu
meredakan resah kesah
dan meredam amarah
dan semua
dan semua
ini saatnya, saya
berdiam di rumah sendiri
salam
gumatya, mungkin ini adalah doa.
bermula di suatu saat,
di penghujung waktu matahari
seorang diri, sepi,
namun tak sunyi
berjalan menyusuri jalan legam,
lurus tak berkelok barang setitik
menghilang di nun, entah
beratap kelam, teduh, tentram
cahaya berpendar, tak surya, tak rembulan
tidaklah gelap, bukanlah benderang,
jauh mata, bertepi putih,
namun tak putih memandang,lapang jernih
rindang, tak berpohon
terus menyusur temaram
tak henti tanya, dimana
sepanjang tapak, sejauh jejak
tercegat pinta, tak berupa
‘menyembahlah, dua helaan saja’
tergelar alas di tengah jalan
suci, menyertai di pijak kaki
kiblat, dia ada di hadapan
uluklah salam, menatap jauh
di ujung utara dan selatan
tafakur sejenak, gaman diletak,
penjaga ruh, lenyap ditangan kanan
:suatu saat, di ujung hari, dan itu, di gathayu
_______________________________
gumatya, ingya arepi ning gathayu (bs. kawi)
sungguh, aku mengharap ada di tempat kebaikan
beranjak gelap,
membawa nyanyian senyap
bermantramantra di usai matahari
terbawa, dari puncak langit
menjuntai ke bumi, di garis cakrawala
berbinar sesaat, kemudian lenyap
meninggalkan lamunan
pada sang penyajak
menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat
setiap hela, nafas tanpa jeda
melupa
membeku, terbayang waktu
ini, bukanlah penggalan terakhir
masih banyak detik tak terhitung
dan sisa di atas batas
bukan sekedar sekelebat, lewat
dan, tak hanya angan-angan pengantar tidur
tapi tetap saja, diri menepis alun
abai akan larik, yang liris berbisik
semakin meneguh ingkar, mengakar
retaklah malam, menelusup
singkirkan hingar bingar.
saatnya sunyi.
harum tanah, basah
serpihan-serpihan berserak
melayang, melayang
pahit berputaran, berpusar liar
menjemput getir
ingin teriak membelah langit
menikam bulan
memburai pekat
masih berkudung murka, merajalela
hati, hampir pecah terlindas
luluhlantakkan setiap sendi,
setiap otot, setiap pori
menatap mata yang tak dikenal, nyalang
merasakan panas nafas, mendengus
menggetar !
uh, tercium bau neraka !
setitik, sampai batas.
terhempas tubuh di peraduan
menyekat angkara,
bersepisepi
membekap nafsu,
mematri
aku rindu hujan,
aku rindu kesunyian.
kemana harus mengasing ?
sesuatu, menghujam, membekas perih
entah dimana, entah
terjerat renjana
adalah, bayang
di jejak tapak hari
berakar, menjaring titik titik
menisik sulam, menganyam
di relung relung benak
yang enggan terjaga
sungguh melangut, membelenggu
tidakkah bosan menunggu ?
bila setiap detik bukan pencarian
hanya diam, terkelu
sedang segala sketsa berkelebat,
memenuhi isi kepala, isi hati, ligat
konon, lirispun terdengar jelas di mimpi
menggoda tak berkesudahan
bersahutsahutan
ah, sudahlah
tepiskan saja katakata,
itu telah tergambar
jelas, walau siluet,
samar-samar terhalang pudar.
syahdan, teriakanpun percuma
hanya semakin menambah kesiaan.
bukankan bisik di keheningan
telah mengajarkan,
dia akan sampai di ujung pinta.
biarkan saja malam menjadi selimut
menghangatkan setiap cerita tak bertepi
bulan, belum lagi sempurna
masih banyak sisi hilang
terbius, waktu
terbias angin beku
arakan halimun meratap
berpegang pada salah satu sisinya
enggan beranjak
menebar gelap, di tapak tanah
yang menjalar menutup lamun
membatu,
di tepian usang menopang dagu
menyingkap sebuah hakikat
tentang celoteh kumbang, perindu kembang
atau cerita hujan yang tertahan
menyepi,
setiap letik sesungguhnya
telah memberikan pada jiwa
saat tapa brata, menunggu tiwikrama
nanti, sampai di penghujung penantian
nanti, sampai di batas hakiki
sepanjang bebatuan terturut jejak
rahasia penuntun, ke ujung jalan
memintal kisah sang embara
mencatatkan larikan sepi dan keramaian
:sampai nanti
mata dalam bingkai
tak terganggu cahaya pendar
bukan larik bias yang memencar pantul bayang
bingkai itu, buram itu, menghalang pandang
terbaca wajah pelangi, semu, utuh
terpantul bayang, di matamu, separuh
mata sesiapa
mata dalam bingkai
mata itu, mata orang-orang
bukan mata bianglala, bukan mata hari
hanya mata hujan atau mata malam ?
yang tak bisa ditembus terlalu dalam
bisa membuatmu terpasung
bisa membuatmu terpalung
telah kukatakan,
tak usah kau lelah menerobos
(atau mendengar liris ?)
cukup kau tatap
aku yang akan membacakannya, untukmu
telah kukatakan,
tak ada ujung pelangi
itu ada di pojok matamu
menari
inspired by : Hezra’s Mata Baca
tatap menghilang jauh
di cakrawala tak berbatas
mega menatap lamunan
tersenyum mengawal hari
bang wetan, memendar
berceloteh dengan bias
sirnalah beban di mata
terserak, tak bersisa
dilantai kayu coklat
kudapati, aku masih menggeliat
aduh, mengapa kau cerabut rasaku
memaksanya menyentak melalui rindu
berpilin menjalin kisah yg bertabur
hujan, bahkan tak sempat membisikkan mimpi
yang tak bisa datang tadi malam
aduh, mengapa kau lekaskan waktu
padahal masih banyak yg bisa kudaki
menjalani waktu yang tak ingin kusudahi
bebaskan sapuan kuas mewarna hari
lukiskan kuncup dan titik air
di atas daun yang masih terlelap
sesap asap ternyata
tak membuat angan beranjak
hanya nyanyian sepi
tentang waktu yang terlewat
tinggal rinai yang menimpa pagi
menyirna sedu sepi di kisi sunyi
uh, aku masih sendiri
menemani rumput embun bersetubuh
hari yang panas
perjalanan, udara yang memanggang
bertemu maya yang selalu membayang
di setiap lekuk waktu
tahukah ?
itu membuatku berdebar
seperti pertama bertemu pacar
sungguh, ada yang membuatku kepincut
sepertinya ada binar di tatap mata
mungkin kita pernah bersapa
dulu, dikehidupan sebelumnya
mungkin
waktu berjalan cepat
dua putaran hanyalah sekelebat
masih banyak ribuan kata
yg tak sempat terucap
ada ribuan rasa
yg tak sempat tercecap
senyum simpul, kediaman
banjir kata, bahana tawa
sebagian misteri terkuak
kepingan puzzle terpasang
inikah dirimu ?
ini aku !
[buat : sahabat2ku. kau, sahabatku, apapun !]