Monthly Archives: October 2008
kontemplasi satu malam
malam liris jendela bulan menampak membawa bayangan jatuh ke benak bertegur lirih dengan masa saat dia melewati kisi hati membawa sejuta syair yang mesti diurai tepekur, meninabobokkan diri menikmati nyanyian bumi yang mengalun bersepi kidung terusik dalam sunyi tak berirama, … Continue reading
manusia menciptakan kotak
manusia menciptakan kotak bukan Tuhan manusia menciptakan jarak bukan Tuhan Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dipetakkan
titik air tidak ke tanah
titik air tidak ke tanah titik air dia terdiam menggenang di pelupuk mata sampai waktunya dia tertumpah dingin tidak bertiup dingin dia terdiam mengendap di hati sampai waktunya dia terbuncah waktu tidak berjalan waktu dia terdiam memeluk keengganan sampai waktunya … Continue reading
maafkan, semoga kau mengerti
maafkan aku tak dapat memberimu puisi di atas bantal atau kecupan kecil untuk membangunkanmu dari mimpi pun satu pelukan hangatkan hatimu dari dinginnya sunyi saat bulan mulai bersembunyi di ufuk pagi maafkan bila hanya larik kata ini yang bisa menemuimu … Continue reading
jeda
tengah hari waktu menikmati hidup sebait kopi dan selarik asap di beranda belakang di suatu tempat :bukan di bumi
yang kesekian tentang cinta
madah telah kupujikan, kasih mengapa engkau masih tampak luyu ? telah kutembangkan asmarandana setiap waktu apakah itu tidak cukup untukmu ? mengapa masih bertanya apakah aku cinta sejatimu ? apakah cinta harus dibekap ? ataukah juga mesti diucap ? biarlah … Continue reading
hilangnya sajak di hutan
konon ada sajak-sajak di hutan yang telah lama berdiri di sana bahkan sebelum aku dibuat bergerombol bersama sanak saudaranya sajak-sajak di hutan membawa keteduhan mencipta sipongang di sela keheningan suatu hari dia mendengar bahwa saudaranya telah banyak pindah ke kota … Continue reading
aku adalah puisi !
apakah aku harus membuat puisi tentang malam ? ataukah aku akan membuat puisi tentang sepi ? tidak karena meraka telah menjadikanku sebuah puisi
monolog vertical 1/3 malam
aku terbangun di puncak waktu menemani suara yang tak terdengar menyambangi angin yang kesepian yang menggigil di relung kamar menyapa alas sujudku yang mulai kumuh kurasakan tetesan embun yang liris melambai di balik jendela yang temaram ingin mendekap menuntaskan rindu … Continue reading