hilangnya sajak di hutan

konon ada sajak-sajak di hutan
yang telah lama berdiri di sana
bahkan sebelum aku dibuat
bergerombol bersama sanak saudaranya

sajak-sajak di hutan membawa keteduhan
mencipta sipongang di sela keheningan

suatu hari dia mendengar bahwa
saudaranya telah banyak pindah ke kota
naik kapal menyeberang samudra
menjadi meja kursi dan sofa
ada yang menjadi karyawan kantor
ada yang menjadi pegawai hotel
ada yang nongkrong di gedongan

konon sajak-sajak di hutan
tergiur oleh bujukan para juragan
untuk melakukan exodus besar-besaran
menyusul saudara mereka yang telah lama pindah
menyandang gelar warga metropolitan

sajak-sajak di hutan lupa diri
mereka telah lupa akan janji
kepada tanah yang telah menyuapi

sajak-sajak mulai pergi
hingga sajak di hutan pun tak ada lagi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to hilangnya sajak di hutan

  1. nadin says:

    tolong sampaikan
    maafku pada hutan
    tanah – tanah yang kekeringan
    dan kehilangan

    tolong sampaikan
    pembelaanku pada hutan
    sajak – sajak yang indah
    untuk mata mengenyangkan

    atas nama kesenian
    perabotan yang menawan
    dan gengsi yang melayang
    sajak hutan jadi korban

    tolong sampaikan
    maafku pada hutan…

    hi…maaf ya mas, jadi ikutan berpuisi.
    tapi aku beneran minta maaf, soalnya kerjaku ngerancang produk dari kayu…baca puisi mas, jadi serba salah…hiks…!!!
    moga – moga makin banyak yang sadar untuk menghidupkan sajak – sajak hutan yang baru yah mas!

    hehe…jadi ikutan serba salah nii…
    soalnya terus terang saya sedih, mbak. membayangkan pohon yang berumur ratusan tahun, kemudian ditebang hanya demi gengsi. belum lagi hutan yang menjadi ratusan lapangan bola. halah… :(
    tapi…semoga, mbak Nadin juga seorang penanam sajak…biar bisa tercipta sipongang yang indah… :)

  2. ainulfahmi says:

    halo salam kenal!!
    mampir ke blog ku ya!!

    halo….salam kenal juga !

  3. edratna says:

    Sebetulnya tak masalah, jika kayu yang digunakan diambil secara legal, sesuai aturan tertentu…dan pohon yang belum waktunya tak boleh diambil…dengan demikian hutannya tetap terjaga

    masalahnya yang ngurusi aturan kadang lupa, bu…setelah melihat lambaian penggoda iman.
    lagipula mereka berpikir bahwa pohon tumbuh dengan sendirinya layaknya perdu dan dalam waktu yang sesingkat2nya, jd mereka nebangnya ya ngawur…hehe…

  4. f474r says:

    Blogwalking Sambil Nyari Kenalan
    Salam Dari duitptc.info

    salam kenal

  5. he..he..
    serimbunnya-rimbunnya
    puisi membalut apa
    darr…!!!
    musnah

    puisi…paling tidak…itulah perasaan kita

  6. hesra says:

    lucarsa…mafka…mereka roh pohon yang senantiasa menangis mas…
    manusia tak dapat mendengarnya..
    kecuali mereka yang sempat mendengar sajak hutan itu…

    salam

    lucarsa….mafka….semoga mereka meciptakan sajak di hati setiap orang…
    buat mencintai hutannya…

    salam kawan

  7. ini tentang hutan dan pohon???

    halahh kirain tentang laut dan gunung!?!?

    *tampar yessy!!!*

  8. kyai slamet says:

    ketika hutan telah tiada
    ketika bencana mulai mendera
    baru kita semua membuka mata
    dan……

    KASEPPPPP (***bahasa jawa ndeso****)

    bener, kang…
    itulah endonesa, mudenge nek wis kasep !
    suwun ya, udah dolan di sini :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>