saat matahari mulai bercakap
rembulan memelintirkan tubuhnya dalam kelelahan
semalam, telah begadang dia
menyibak kabut dan awan
yang tak sengaja menutup bintang
angin mulai terasa hangat
seonggok daun kering terpuruk
di pojok sana
maya,
kuharap engkau tahu kepedihan ini
yang mulai kurasa menguras rasa perihku
mungkin engkau mampu menawarkannya
tiap kali kurasa torehan tajam di dada
sebanyak doa-doa yang kuhembuskan
bersama nafas yang semakin lemah
rembulan masih enggan beranjak dari tempatnya
ketika matahari mulai menampakkan garangnya
masih setia dia
menemani kesedihan ini
35 responses so far ↓
KajianKomunikasi // Nov 7th 2008 at 9:53 pm
maya (dunia maya) mungkin memberikan tawaran2 ya mas? Ke sini lagi, lagi kangen baca2 keindahan. Salam hangat.
bener, mas her…

dia setia menemani juga.
seperti luna maya yang indah
salam hangat juga
icha // Nov 8th 2008 at 3:17 am
jadi ini ceritanya, matahari dan bulan yang gantian tugas jaganya yakkks? aplusan hhehehheheh
iya…mau dibikin 3 sift cuma kekurangan tenaga
dobleh yang malang // Nov 8th 2008 at 4:21 am
dan aku akan selalu di sini di tempatku menanti sinaran mentari karya abang.
kan ku langkahkan kaki tuk terus belajar banyak denan abangku ini
selamat malam dan salam hangat selalu
please…please, brother
pintuku selalu terbuka untuk menanti langkahmu
salam kawanku
yessy muchtar // Nov 8th 2008 at 11:17 am
aku lebih mencintai rembulan ketimbang matahari…
ku kira kau juga begitu
ada sejuknya dalam setiap belaian sepi yang mangantarkanku dalam lamunan semu
ada Dinginnya yang menjawab kegalauan akan gundah yang ku rasa dalam hidup
Dan jika ada air mata yang menetes menemani sakit hati ini…cepat cepat bulan panggil bintang untuk menari..dan menghibur ku…
so, my sista…
mari kita nikmati nyanyian rembulan
biarkan dia menemani kita
saat kita kesakitan dan penuh lamunan
-G- // Nov 8th 2008 at 11:44 am
Ahh…kesedihan itu, sukanya menggantung terus, ga rela pergi mungkin ya… (^^,)
iya ni…kalo kesedihan kayaknya betah kali dia ngendon…
giliran kebahagiaan, ….kadang2 cepat berlalu
Tuyi // Nov 8th 2008 at 11:54 am
rembulan masih enggan beranjak dari tempatnya…
Betapa malas rembulanya mas goenoeng…ihikihik….
iya mas heru, kurang kopi mungkin, haha…..
achoey // Nov 8th 2008 at 2:26 pm
Dan ketika rembulan hampir padam
Masihkah kau merendam diam?
mungkin diam adalah kesedihan, mas haris….
tapi diam juga adalah salah satu jalan perenungan…
rahmadi srijanto // Nov 8th 2008 at 2:29 pm
sebuah puisi yang indah…
matur nuwun, mas rahmadi
dobleh yang malang // Nov 8th 2008 at 3:39 pm
selamat siang bang, aku tengah tertikam sinaran kenangan lagi,bang.
kapan mau ketemuan?
salam hangat selalu
wah, apa yg terjadi, my brother ?
semoga tikamannya tidak terlalu menyakitimu, blue
salam, selamat malam
mikekono // Nov 8th 2008 at 5:44 pm
ketika rembulan pun
enggan menemani
ku cuma bisa sesali diri
sebab dia tlah lama pergi
semaikan luka di hati
sekali lagi, applause buat abang
all round, politik dan puitik, hehe…
dion // Nov 8th 2008 at 6:40 pm
ga ngerti puisi akyu
eniwei, thanks buat mampir
Rindu // Nov 8th 2008 at 9:39 pm
saya datang kang … hendak meminang bulan, boleh kan?
hai….sudah lama sekali
akhirnya kamu datang kembali
plis masup…
dyahsuminar // Nov 9th 2008 at 6:25 am
“setelah tugas rembulan selesai….
matahari akan menggantikannya…”
…..Iya lah..kalau tidak,,,nanti berabe, kita gak bisa kerja,gak bisa jualan…Ibu gak bisa keliling kampung kampung…walau pada malam hari Jogja sudah terang benderang…dengan PJU nya ?penerangan jalan umum…
dan kalo mataharinya ngambek….bisa2 PLN tekor Bu Dyah….buat penerangan jalan umum, hehe…
selamat meneruskan berkeliling bu, semoga jogja semakin rame wisatanya
edratna // Nov 9th 2008 at 6:39 am
Aku paling ga ngerti tentang puisi…jadi mesti baca komentar yang di atas dulu…..hehehe…aku pikir Maya nama cewek….waduhh
hehe…saya tahu bu Enny pasti menduga begitu…
nah, puisi ini saya buat biar panjenengan salah tafsir, hahaha…(enggak ding)
eniwei, terima kasih buat kedatangannya bu Enny
namada // Nov 9th 2008 at 8:40 am
weitz..ini kumpulan puisi yaa blognya..
sip2! penyuka puisi nich..
i should’ve known this blog earlier
hopefully…you will always come after this, Namada…

hesra // Nov 9th 2008 at 10:35 am
selalu tak adil.selalu chandra (bulan) yg diperhatikn manusia.pdhl sinarnya pun meminjam sinar matahari.selalu saja bulan yg byk mndatangkan ide2,perenungan,harapan.kesian bgt surya (matahari)
dan luna maya,adl rembulan semu.
begitupun hidup kan, hez ?
itu menurut pandangan umum.
tinggal kita mau melihat dari sudut pandang mana.
luna maya ?….walaupun semu dia tetep indah……
Elys Welt // Nov 9th 2008 at 12:06 pm
tadi malam aku potret berkali-kali wajah rembulan yang belum genap bulatnya, aku kok selalu hepi ya mas, jika lihat rembulan
wah ya tergantung juga ya mbak Elys
kalo pas hati hepi ya tambah hepi, tapi kalo pas tanggal tua ya…hehe…sedih….
langitjiwa // Nov 9th 2008 at 12:42 pm
Bersama malam pada hutan sepimu,
Aku telah menjadi mataharimu.
so, welcome matahari…
apa kabar, bro ?
pimbem // Nov 9th 2008 at 2:21 pm
wuihhh!!
saya bingung mo komen apa, sumpah ga ngerti blas kl soal puisi2 gini
…
…
maap
hahaha…..ndak papa
saya tahu, mbak Ida lebih ahli kalo dikasih kabel sama server ya
hidayanti // Nov 9th 2008 at 3:38 pm
hikz hikz…ko sedih gitu mas gunung..ayo semangat doonk…hidup mas gunung!!!
thank you treesa…(eh, apa bahasa rusianya ?)
nah, karena kamu mampir sini…..sekarang….semangat !
achoey // Nov 9th 2008 at 6:42 pm
Yup sahabat
makanya kutulis puisi “Dalam Diam”
ok, thank you kawan
Raffaell // Nov 9th 2008 at 8:37 pm
Sejauh jauhnya matahari, seterang terang nya cahayanya, tetapi rembulan itu masih terlihat…hehe
nah, tambahan satu point untuk rembulan…
latree // Nov 9th 2008 at 9:29 pm
biar matahari dan rembulan berdampingan
kau rasakan mana yang lebih memberi hangat dan terang
tapi melihat keduanya bersama…
ambigu..
menyenangkan
menyakitkan
bisa menikmati keduanya adalah keindahan, La
ya, sambil berharap tidak ada lagi kesedihan
mascayo // Nov 9th 2008 at 10:00 pm
dan lihatlah dia datang
matahari yang menggarang
menyadarkan kepedihan haruslah segera hengkang
andai seperti itu mascayo
begitu matahari datang, kesedihan hilang…
Kyai slamet // Nov 10th 2008 at 3:07 am
Kuingin kesejukan rembulan, tapi kuingin kesetiaan matahari.
mantap kang, itu juga aku mau
sawali tuhusetya // Nov 10th 2008 at 3:45 am
jika baca puisi ttg rembulan, saya selalu ingat lirik puisi teman penyair jadul: rembulan jatuh di kolam, riak gelombang bagaikan gelepar hasratku yang kautikam.
aha, rembulan memang selalu nyaman sebagai sumber inspirasi, mas goenoeng!
haha….mungkin selera saya memang jadul juga mas sawali
dan semoga bulan menjadi salah satu yang menemani saya sampai nanti
matur nuwun mas
Michael Siregar // Nov 10th 2008 at 5:19 am
Bah…mantab kali puisinya….
saya suka pemilihan kata katanya…
Salam dari jauh.
mauli ate, bang mike…
?
bagaimana kabar amrik ? musim durenkah disana
salam juga dari jauh
Lala // Nov 10th 2008 at 9:37 am
Bulan boleh lelah…
tapi dia akan selalu berusaha hadir setiap hari, menemani saya..
*haduh, ndak bisa berpuisi saya, Mas! sumprit! hehe*
halah…halah…..merendahkan diri meninggikan mutu…
kamu tahu La, cerita2mu itu adalah puisi2 panjang buatku
sampai saat inipun aku masih heran, bagaimana kamu bisa menyusun kata2 demikian panjang…
*nyerah…nyeraaah….. :D*
Kwek Lie Na // Nov 10th 2008 at 2:13 pm
Bagiku…
Sinar matahari selalu menghangatkan jiwaku yang mulai dingin,saat aku mulai ragu dengan cinta dan kasih
Saat aku hanyut dalam buaiyan mimpi cinta semu
Saat hatiku merasa sepi dan seorang diri
Rembulan selalu merangkulku dalam dekapan mesranya
Saat terlihat olehnya genangan dipelupuk mataku
Saat dimalam yang sunyi ku cari sosoknya yang begitu jauh
Saat aku rindu,sakit dan sepi
Matahari dan rembulan adalah kekasih jiwaku
Mereka setia menghampiriku
Menemaniku menjalani hidup yang berliku
Tanpa pernah bertanya dan mengeluh walupun kadang aku menjadi sosok yang berbeda dan menjenuhkan…
Salam hangat Mas Goenoeng…semoga kamu juga dapat merasakan kehangatan matahari dan kelembutan rembulan
taiwan atau blog ini yang membuat sobatku menjadi romantis ?

eniwei, semoga hari2mu bersama keluarga juga selalu romantis, aling
salam hangat buatmu, kedua jagoan cilikmu dan juga your husband
Michael Siregar // Nov 10th 2008 at 5:25 pm
Saya ada titipan Award untuk Anda…diambil ya….Terima kasih.
maturnuwun, bang mike…
ah, kok bisa sih…..apalah blog ini lae…
nadin // Nov 11th 2008 at 5:59 am
Mas…bulannya kan bertahan karena nungguin secercah senyum muncul diwajahmu…
haha…baru kepikiran malah mbak nadin
mungkin ya. tapi kalo saya nggak senyum2 terus piye ?
Indah Sitepu // Nov 11th 2008 at 12:07 pm
sering2 berkunjung ke blog ini
bisa terjangkit penyakit romantis
mauli ate, ito…
kunjunganmu juga membawa pesan romantiskah ?
Kwek Lie Na // Nov 11th 2008 at 8:31 pm
hahahaha…
Coba tebak sendiri…yang utama,jelas blog dan pemilik ini yang membuat aku romantis …
thanks ya untuk semuanya ,sobat!
waaaa….berarti aku bisa membuat orang jadi romantis kan ?

gimana kalo aku buka kursus romantis ? laku gak ya ?
makasih juga sist….
Dini // Nov 14th 2008 at 9:43 am
Puisi2nya bagus2……..keren nih mas
salam kenal ya
thank you dan salam kenal juga ya
Daniel Mahendra // Nov 15th 2008 at 7:43 am
Rembulan dan matahari, rupanya bukan sejoli yang mesra di sajak ini…
malah bisa sebaliknya dong, rembulan merindui matahari sehingga tak mau hengkang di hari siang….
Leave a Comment