Monthly Archives: January 2009
petak-petak keramik
de, kutapaki satu satu lantai, dengan mata mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari berbaur, mencipta abstrak indah layaknya lukisan dengan komposisi aneh berputar berpilin seperti pikiranku yang semakin menggila berangan menuntaskan semua dalam khayal. kuberalih dari petak ke petak … Continue reading
kadang, aku, ingin
kadang aku ingin waktu lambat berjalan agar aku bisa menikmati semua rasa yang tidak berujung melihat kegelisahan orang-orang yang hilir mudik menggapai kehidupan dan aku ada di dalamnya bersama merasakan kegelisahan itu kadang aku ingin jam berhenti berdetak biar kebahagiaan … Continue reading
biarkan, kasih…
kasih, andai derai airmataku tampak jangan kau hiraukan itu hanyalah debu yang singgah di mataku bila tampak sedu sedan olehmu jangan kau hiraukan karena itu mungkin sesak nafas oleh batukku bila langkahku gontai jangan kau bantu aku hanya perlu bersandar … Continue reading
di balik mendung
bias asap menghilang di cakrawala lalu tetes air yang horizontal jatuh, mengalir mencumbu tanah mencipta rima di bebatuan,berirama menambah lamunan ke puncak ekstasi menerawang berandai-andai di balik mendung, ada mata dewa menantang, mengajak bersitatap dan tak cuma memandang beku malah … Continue reading
tetes banyu
tetesing udan ing wayah ratri rinasa amedhyat ati ngelingake marang tembang lintang kang sirep tetesing banyu ora mung ning netra uga tumetes ning telenging ati yen kelingan laku jalma ing donya akeh lakon mung kaya boreh tan rumasuk ing raga … Continue reading
garang matahari, terjebak di kepalanya
seperti ranting kering, di sepokok pohon kering di padang rumput gersang tandus berdebu berbatu alunan angin, malah membuatnya meranggas tak setitik airpun enggan mampir, di daunnya yang menghitam, mengering sesosok lelaki berlindung, di balik bayangannya, yang ternyata panas telapak kakinya … Continue reading
aku
aku milik malam, kelam seperti pekat di tengah kegelapan memburai perut terang ke dalam keping-keping tak berbentuk tak bersahabat, bahkan pada celoteh celoteh bintang aku adalah senyap di sepanjang lorong ramai di tengah pesta dan kegembiraan menceraiberaikan suara sorak yang … Continue reading
hilang…
berangan memetik manik hujan tangkupkan dua tangan dan tengadah masih tampak warna jingga sisa terang di ujung langit seperti goresan lukisan dewa yang menoreh warna dengan angkuh bermimpi menghirup wangi dupa di tengah tak tentu yang hilang arah seperti sulur-sulur … Continue reading
nyanyian hujan
hujan deras, air terhempas mencipta tombak bening menghujam bumi batin basah, oleh tempias beterbangan menunggang angin menyatukan rasa yang bias rintik air adalah melodi yang menyadarkan bahwa aku tak sendiri hujan, adalah lembar diari tempat menuliskan pikir yang tak ingin … Continue reading
mata, air mata
mentari pucat mata berlinang ada jerit liris miris berkubang darah berkubang air mata berkubang doa berkubang duka berkubang prahara air mata siapa ? tangis siapa ? ratap siapa ? anak manusia rembulan pasi asap meninggi merah jingga api merona langit … Continue reading