de,
kutapaki satu satu lantai, dengan mata
mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari
berbaur, mencipta abstrak indah
layaknya lukisan dengan komposisi aneh
berputar berpilin seperti pikiranku
yang semakin menggila berangan
menuntaskan semua dalam khayal.
kuberalih dari petak ke petak
tapi aku merasa masih di situ
garis-garis itu masih sama
tak berpindah tempat
tak bergerak
de,
hatiku teriris melihat senyum dan bening mata
aku seolah terbenam !
hatiku tercekam
bila saja ada yang bisa diulang
mestinya akan ada bagian yang kubuang
biar bisa kubuat kelok lekuk itu lebih indah
setidaknya, aku bisa melihatnya sambil tertawa
atau kusyuk berdoa, tak hanya sekedar merapal kata hampa
dan tidak menatap petak-petak keramik ini, dengan kebingungan