Monthly Archives: February 2009
perempatan jalan
di perempatan jalan terlukis lamun sarapan asap debu dan deru melintas manusia melaluinya aku di sana ada lelah tak terlihat ada resah yang berdusta tak rasa tulang berderak atau ngilu urat ada kesah yang memberat langkah duh, Gusti bukan persimpangan … Continue reading
rindu dendam
bukan memasung rindu memelukku seperti matahari yang menghangati seperti malam yang bersetubuh dengannya rindu, rindu dendam selalu menoreh luka yang tak mau sembuh membungkam mulut menahan jerit menambah jerih di dada rindu, rindu dendam pada detik dan setiap porinya meracun … Continue reading
kamboja buat bapak
kamboja itu sudah aku tanam, bapak di atas pusaramu itu yang mampu kulakukan untuk mengingat bahwa aku masih anakmu masih ku dengar pesanmu di jiwa walau tak sepatahpun pernah kau katakan padaku atau hanya sekedar satu belaian nina bobok yang … Continue reading
sepucuk jiwaku menghilang
hari itu, sepucuk jiwaku hilang meninggalkan jejak pedih meniris air mata menyisa jelaga di sudutnya saat menatap ruang itu, kosong mengusap membelai udara yang bertahun menyahut berbincang dan bercengkerama dengan alunanku hanya tertinggal kilasan tumpang tindih gambar-gambar yg beranyam seperti … Continue reading
barisan sujud
satu dua, edaran bulan terjebak dalam riuh pusaran melupa hening alunan saat embun mulai jatuh menyapa dahaga rumpun daun dan celoteh angin liris kurasa kering alas malam seperti kerontangnya manah sempat terlupa membasahinya dengan sisa air di muka, di kening … Continue reading
notasi pagi
angin bertiup lirih masih liris nyaris, membawa embun enyah dari pucuk daun, berkelana ke entah menunggu hari lelah. daun di dahan itu luruh satu saat kulihat. di tanah berserak telah kering coklat. terang di ufuk kuning semburat. adalah matahari adalah … Continue reading