Monthly Archives: February 2009

kabarku, baik-baik saja ?

sungguh menyesak seperti terbenam di kedalaman palung. nyeri perih terpaku, menghujan di setiap mili hati. jejak hari, mengerak memberat isi kepala dan dada. kau tahu ? berbaris telah, harap kutabur terasa panas hembus nafas menyelimuti sekujur tubuh yang semakin rapuh … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

perempatan jalan

di perempatan jalan terlukis lamun sarapan asap debu dan deru melintas manusia melaluinya aku di sana ada lelah tak terlihat ada resah yang berdusta tak rasa tulang berderak atau ngilu urat ada kesah yang memberat langkah duh, Gusti bukan persimpangan … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 13 Comments

rindu dendam

bukan memasung rindu memelukku seperti matahari yang menghangati seperti malam yang bersetubuh dengannya rindu, rindu dendam selalu menoreh luka yang tak mau sembuh membungkam mulut menahan jerit menambah jerih di dada rindu, rindu dendam pada detik dan setiap porinya meracun … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 82 Comments

kamboja buat bapak

kamboja itu sudah aku tanam, bapak di atas pusaramu itu yang mampu kulakukan untuk mengingat bahwa aku masih anakmu masih ku dengar pesanmu di jiwa walau tak sepatahpun pernah kau katakan padaku atau hanya sekedar satu belaian nina bobok yang … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

sepucuk jiwaku menghilang

hari itu, sepucuk jiwaku hilang meninggalkan jejak pedih meniris air mata menyisa jelaga di sudutnya saat menatap ruang itu, kosong mengusap membelai udara yang bertahun menyahut berbincang dan bercengkerama dengan alunanku hanya tertinggal kilasan tumpang tindih gambar-gambar yg beranyam seperti … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 31 Comments

barisan sujud

satu dua,  edaran bulan terjebak dalam riuh pusaran melupa hening alunan saat embun mulai jatuh menyapa dahaga rumpun daun dan celoteh angin liris kurasa kering alas malam seperti kerontangnya manah sempat terlupa membasahinya dengan sisa air di muka, di kening … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged | 90 Comments

notasi pagi

angin bertiup lirih masih liris nyaris, membawa embun enyah dari pucuk daun, berkelana ke entah menunggu hari lelah. daun di dahan itu luruh satu saat kulihat. di tanah berserak telah kering coklat. terang di ufuk kuning semburat. adalah matahari adalah … Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , | 13 Comments