Monthly Archives: March 2009
gumatya, ingya arepi ning gathayu
gumatya, mungkin ini adalah doa. bermula di suatu saat, di penghujung waktu matahari seorang diri, sepi, namun tak sunyi berjalan menyusuri jalan legam, lurus tak berkelok barang setitik menghilang di nun, entah beratap kelam, teduh, tentram cahaya berpendar, tak surya, … Continue reading
hanya angan pengantar tidur
beranjak gelap, membawa nyanyian senyap bermantramantra di usai matahari terbawa, dari puncak langit menjuntai ke bumi, di garis cakrawala berbinar sesaat, kemudian lenyap meninggalkan lamunan pada sang penyajak menanti pecahnya janji oleh retak mulut yang bergumam, katakata makna menyepuh kata … Continue reading
sesuatu menghujam, perih
retaklah malam, menelusup singkirkan hingar bingar. saatnya sunyi. harum tanah, basah serpihan-serpihan berserak melayang, melayang pahit berputaran, berpusar liar menjemput getir ingin teriak membelah langit menikam bulan memburai pekat masih berkudung murka, merajalela hati, hampir pecah terlindas luluhlantakkan setiap sendi, … Continue reading
renjana
terjerat renjana adalah, bayang di jejak tapak hari berakar, menjaring titik titik menisik sulam, menganyam di relung relung benak yang enggan terjaga sungguh melangut, membelenggu tidakkah bosan menunggu ? bila setiap detik bukan pencarian hanya diam, terkelu sedang segala sketsa … Continue reading
bulan belum lagi sempurna
bulan, belum lagi sempurna masih banyak sisi hilang terbius, waktu terbias angin beku arakan halimun meratap berpegang pada salah satu sisinya enggan beranjak menebar gelap, di tapak tanah yang menjalar menutup lamun membatu, di tepian usang menopang dagu menyingkap sebuah … Continue reading
mata pelangi
mata dalam bingkai tak terganggu cahaya pendarbukan larik bias yang memencar pantul bayangbingkai itu, buram itu, menghalang pandangterbaca wajah pelangi, semu, utuhterpantul bayang, di matamu, separuhmata sesiapa mata dalam bingkaimata itu, mata orang-orangbukan mata bianglala, bukan mata harihanya mata hujan … Continue reading
pada suatu pagi
tatap menghilang jauh di cakrawala tak berbatas mega menatap lamunan tersenyum mengawal hari bang wetan, memendar berceloteh dengan bias sirnalah beban di mata terserak, tak bersisa dilantai kayu coklat kudapati, aku masih menggeliat aduh, mengapa kau cerabut rasaku memaksanya menyentak … Continue reading
ini aku !
hari yang panas perjalanan, udara yang memanggang bertemu maya yang selalu membayang di setiap lekuk waktu tahukah ? itu membuatku berdebar seperti pertama bertemu pacar sungguh, ada yang membuatku kepincut sepertinya ada binar di tatap mata mungkin kita pernah bersapa … Continue reading
tanah kecilku
menjejak tanah disini kecilku telah aku hafal lekuk debu kepak gagak dan suara bumi tertanam setaman ingatan tembang daun bambu di pojok kebun jalan setapak angin pokok pohon adalah penyandar kesah helai daun, retak lemah percik banyu, keraka berlomba di … Continue reading