bulan belum lagi sempurna

bulan, belum lagi sempurna
masih banyak sisi hilang
terbius, waktu
terbias angin beku

arakan halimun meratap
berpegang pada salah satu sisinya
enggan beranjak
menebar gelap, di tapak tanah
yang menjalar menutup lamun

membatu,
di tepian usang menopang dagu
menyingkap sebuah hakikat
tentang celoteh kumbang, perindu kembang
atau cerita hujan yang tertahan

menyepi,
setiap letik sesungguhnya
telah memberikan pada jiwa
saat tapa brata, menunggu tiwikrama
nanti, sampai di penghujung penantian
nanti, sampai di batas hakiki

sepanjang bebatuan terturut jejak
rahasia penuntun, ke ujung jalan
memintal kisah sang embara
mencatatkan larikan sepi dan keramaian
:sampai nanti

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>