tanah kecilku

menjejak tanah
disini kecilku
telah aku hafal lekuk debu
kepak gagak dan suara bumi
tertanam setaman ingatan
tembang daun bambu
di pojok kebun
jalan setapak angin

pokok pohon adalah
penyandar kesah
helai daun, retak lemah
percik banyu, keraka
berlomba di merah tanah

itu, sedikit yang masih teringat
bagian kitab yg telah kuhafal

Posted in Uncategorized | Tagged | 81 Comments

kabarku, baik-baik saja ?

sungguh menyesak
seperti terbenam
di kedalaman palung.

nyeri perih
terpaku, menghujan
di setiap mili hati.

jejak hari, mengerak
memberat isi kepala dan dada.

kau tahu ?
berbaris telah, harap kutabur
terasa panas hembus nafas
menyelimuti sekujur tubuh
yang semakin rapuh

kau tahu ?
kuukir setiap detik
dengan titik embun di sudut mata
kuseka, seketika
kutatap garang

kau tahu ?
tentang bilik sembunyi
yang menyekap resah sedih
biar hanya tampak diam
atau titik senyum

ada berlaksa andai
juga sepenggal nyanyian luka
yang berulang, di setiap ujung angan.

apakah kabarku baik-baik saja ?

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

perempatan jalan

di perempatan jalan
terlukis lamun
sarapan asap debu
dan deru melintas

manusia melaluinya
aku di sana
ada lelah tak terlihat
ada resah yang berdusta
tak rasa tulang berderak
atau ngilu urat
ada kesah yang memberat langkah

duh, Gusti
bukan persimpangan ini
yang membuat benakku berputar
hanya, tercetak di kepala
petak-petak yang semakin menganak pinak

Posted in Uncategorized | Tagged | 13 Comments

rindu dendam

bukan memasung
rindu memelukku
seperti matahari yang menghangati
seperti malam yang bersetubuh dengannya

rindu, rindu dendam
selalu menoreh luka
yang tak mau sembuh
membungkam mulut
menahan jerit
menambah jerih
di dada

rindu, rindu dendam
pada detik dan setiap porinya
meracun darah di aliran nadi
tak mau hilang
tak akan terbuang
tetap berkubang
di dada

rindu, rindu dendam
merengkuh di relung malam
menggila di peluk hujan
menguntaiku di jalinan hari

: ku tak mau bernafas tanpamu

Posted in Uncategorized | Tagged | 82 Comments

kamboja buat bapak

kamboja itu sudah aku tanam, bapak
di atas pusaramu
itu yang mampu kulakukan
untuk mengingat bahwa aku masih anakmu

masih ku dengar pesanmu di jiwa
walau tak sepatahpun
pernah kau katakan padaku
atau hanya sekedar satu belaian
nina bobok yang mengantar tidur

bisa kurasa rindu padamu, bapak
walau aku tak tahu apakah kau
pernah merasakan yang sama
atau sekedar memikirkan yang sama

kamboja itu sudah tumbuh
di atas pusaramu yang sepi
menjatuhkan bunganya satu persatu
menjagamu dari terik matahari
dan semoga, kaupun bisa mencium wanginya

: mungkin, tahun depan
aku akan mengunjungi lagi pusaramu
untuk menyapa, dan berdoa di situ

[r]

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

sepucuk jiwaku menghilang

hari itu, sepucuk jiwaku hilang
meninggalkan jejak pedih
meniris air mata
menyisa jelaga di sudutnya
saat menatap ruang itu, kosong

mengusap membelai udara
yang bertahun menyahut berbincang
dan bercengkerama dengan alunanku

hanya tertinggal
kilasan tumpang tindih
gambar-gambar yg beranyam
seperti photo-photo tua di album lusuh
berkisah di sisi tembok kusam

tepekur di pojok ruang
bersanding debu, berhias sawang
biasanya, di situ aku mereka
tapi, kursi itu tak lagi ada
menguap seperti melodiku
membuatku menunduk, penuh
malah membasahi lantai
dengan tetes kesedihan, melangut

entah, entahlah
kapan cuilan itu akan kembali.
mungkin saat sulur-sulur melati
kembali tumbuh dari lemah
menggoda dengan harum pagi dan malam
menunggangkan kembang pada angin lewat.
menyusun lagi serpih-serpih
dari luluh lantak yang bersembunyi

:aku, akan merindu wangimu

Posted in Uncategorized | Tagged | 31 Comments

barisan sujud

satu dua,  edaran bulan
terjebak dalam riuh pusaran
melupa hening alunan
saat embun mulai jatuh
menyapa dahaga rumpun daun
dan celoteh angin liris

kurasa kering alas malam
seperti kerontangnya manah
sempat terlupa membasahinya
dengan sisa air di muka, di kening
sesekali tetesan bening di sudut mata
dan sejuta keluh kesah
dan sedikit doa

pada barisan sujud
semoga namaku masih terselip
tak pernah tertepis atau terkikis
selalu menjadi bagian deret di sana
meniti jalan di tulisan waktu
mengentahkan titik tentu
dan bersabar menghitung nikmat
yang tak sadar, telah tersaji
di setiap edaran bumi

Rabb,
ampuni aku

Posted in Uncategorized | Tagged | 90 Comments

notasi pagi

angin bertiup lirih masih
liris nyaris,
membawa embun
enyah dari pucuk daun,
berkelana ke entah
menunggu hari lelah.
daun di dahan itu luruh satu
saat kulihat.
di tanah berserak
telah kering coklat.
terang di ufuk
kuning semburat.
adalah matahari
adalah berjuta mungkin

letik memori kembali
dari peraduan semalam
seketika kangkangi benak
menelisik di sela geliat
seperti lugut yang tak mau pergi

bergegas langkah meretas jalan
mengejar jejak yang sempat tertinggal

:notasi hari yang beranjak pagi

Posted in Uncategorized | Tagged , | 13 Comments

petak-petak keramik

de,
kutapaki satu satu lantai, dengan mata
mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari
berbaur, mencipta abstrak indah
layaknya lukisan dengan komposisi aneh
berputar berpilin seperti pikiranku
yang semakin menggila berangan
menuntaskan semua dalam khayal.

kuberalih dari petak ke petak
tapi aku merasa masih di situ
garis-garis itu masih sama
tak berpindah tempat
tak bergerak

de,
hatiku teriris melihat senyum dan bening mata
aku seolah terbenam !
hatiku tercekam

bila saja ada yang bisa diulang
mestinya akan ada bagian yang kubuang
biar bisa kubuat kelok lekuk itu lebih indah
setidaknya, aku bisa melihatnya sambil tertawa
atau kusyuk berdoa, tak hanya sekedar merapal kata hampa
dan tidak menatap petak-petak keramik ini, dengan kebingungan

Posted in Uncategorized | Tagged , | 23 Comments

kadang, aku, ingin

kadang aku ingin waktu lambat berjalan
agar aku bisa menikmati semua
rasa yang tidak berujung
melihat kegelisahan orang-orang
yang hilir mudik menggapai kehidupan
dan aku ada di dalamnya
bersama merasakan kegelisahan itu

kadang aku ingin jam berhenti berdetak
biar kebahagiaan tidak cepat usai
seperti yang kurasakan kemarin
agar bisa kusimpan seluruh lukisan
kisah bersama orang-orang
yang kukenal dan yang tak kukenal

kadang aku ingin detik berlalu, lebih cepat
biar bisa kurasakan kepedihan ini
berlalu dengan ligat
sambil menikmati bahagia yang masih tersisa
bersama orang-orang yang kukenal dan yang tak kukenal
dan mengabarkan pada mereka
bahwa kepedihan ini akan cepat pergi
seiring bumi yang berputar

kadang aku ingin matahari terbit di barat
biar bisa kuulang semua sejarah
biar dapat kuhapus semua salah , yang sudah kubuat
biar bisa kulihat kembali sapaan dan senyuman
dari orang-orang yang kukenal dan tidak kukenal
agar bisa kulihat lagi kebahagian segelintir manusia, juga aku

kadang aku ingin merasakan
kepedihan dan kebahagiaan pada waktu yang sama
agar tak bisa lagi merasa, biar perasaan ini hampa

Posted in Uncategorized | Tagged , | 1 Comment