Tag Archives: sajak
hanya angan pengantar tidur
beranjak gelap, membawa nyanyian senyap bermantramantra di usai matahari terbawa, dari puncak langit menjuntai ke bumi, di garis cakrawala berbinar sesaat, kemudian lenyap meninggalkan lamunan pada sang penyajak menanti pecahnya janji oleh retak mulut yang bergumam, katakata makna menyepuh kata … Continue reading
sesuatu menghujam, perih
retaklah malam, menelusup singkirkan hingar bingar. saatnya sunyi. harum tanah, basah serpihan-serpihan berserak melayang, melayang pahit berputaran, berpusar liar menjemput getir ingin teriak membelah langit menikam bulan memburai pekat masih berkudung murka, merajalela hati, hampir pecah terlindas luluhlantakkan setiap sendi, … Continue reading
petak-petak keramik
de, kutapaki satu satu lantai, dengan mata mencampurnya dengan kepulan asap di ujung jari berbaur, mencipta abstrak indah layaknya lukisan dengan komposisi aneh berputar berpilin seperti pikiranku yang semakin menggila berangan menuntaskan semua dalam khayal. kuberalih dari petak ke petak … Continue reading
kadang, aku, ingin
kadang aku ingin waktu lambat berjalan agar aku bisa menikmati semua rasa yang tidak berujung melihat kegelisahan orang-orang yang hilir mudik menggapai kehidupan dan aku ada di dalamnya bersama merasakan kegelisahan itu kadang aku ingin jam berhenti berdetak biar kebahagiaan … Continue reading
garang matahari, terjebak di kepalanya
seperti ranting kering, di sepokok pohon kering di padang rumput gersang tandus berdebu berbatu alunan angin, malah membuatnya meranggas tak setitik airpun enggan mampir, di daunnya yang menghitam, mengering sesosok lelaki berlindung, di balik bayangannya, yang ternyata panas telapak kakinya … Continue reading
aku
aku milik malam, kelam seperti pekat di tengah kegelapan memburai perut terang ke dalam keping-keping tak berbentuk tak bersahabat, bahkan pada celoteh celoteh bintang aku adalah senyap di sepanjang lorong ramai di tengah pesta dan kegembiraan menceraiberaikan suara sorak yang … Continue reading
hilang…
berangan memetik manik hujan tangkupkan dua tangan dan tengadah masih tampak warna jingga sisa terang di ujung langit seperti goresan lukisan dewa yang menoreh warna dengan angkuh bermimpi menghirup wangi dupa di tengah tak tentu yang hilang arah seperti sulur-sulur … Continue reading
episode : pencarian
kubebaskan mata nun kesana kutadahkan tangan, bentang langit kelipan bintang ataupun kelam kuasa-MU aku, masih memandang titik-titik makna di beranda tulis setiap kata dan arti seperti ajaran para nabi pada kutipan kitab dan aku masih bersujud hati, di kiblat-MU tetesan … Continue reading
ketika hampir terakhir
saat benak mulai menuntut untuk rebah sejenak di pembaringan yang tercarut kaki enggan untuk sekedar melangkah terkunci rapat di dekat dipan di ujung kamar itu benakku masih terpatri pada kenangan-kenangan yang aku ragu akan kembali apakah aku harus mulai berbaring … Continue reading
sebuah episode perjalanan di bumi
menunggu tetesan embun yang jatuh di tepi malam di pucuk daun mangga di samping rumah yang kuharap tak mengering mungkinkah menunggu pelangi itu ? seperti mengharap matahari di kepekatan malam sesungguhnya, telah ada sejak dulu tentang kata-kata yang bertuah yang … Continue reading